Waspada. (atau bisa juga Paranoid).

(di sebuah gerai cellular)

Pak beli kartu perdana.

Buat internet apa HP?

Internet, di modem

Yang ini aja mas

(ada berbagai paket murah, bergiga-giga paket)

Ini tiap bulan harus bayar 80rb biar dapet 8 giga ini pak?

ndak mas itu cuma promo, jika nanti habis ndak usah isi ulang, beli yang baru lagi saja

oh, ndak bisa diisi ulang?

bisa, tapi kuotanya ndak sebesar itu lagi. 

Kalo gitu saya beli yang kartu biasa saja Pak.

Tapi itu kartu biasa lho mas

Iya, nggakpapa.

(karena pengin kartu yang nomornya tetap, ndilalah ada kartu dengan nomor lumayan seharga tiga ribu saja)

Ambil nomor yang ini Pak

Iya

(diambilkan)

Sebentar, saya aktifkan dulu

Eh, saya aktifkan sendiri saja.

Ndak bisa, nanti malah rusak lho 

(sambil buka segel, taruh simcard di ponselnya dan langsung mengaktifkan, tanpa tanya nama, tanpa minta nomor KTP)

Tiga ribu mas

(sambil menyerahkan kartu yang sudah diaktifkan)

Iya

(transaksi selesai)

Analisa

Kartu nggak akan saya pakai, karena bukan atas nama saya. Jelas sekali penjual mengaktifkan kartu yang baru saya beli dengan entah nama dan KTP siapa. Memang saya bebas “berbuat kejahatan” dengan kartu itu, tapi saya juga tidak akan mendapatkan promo apapun, kalaupun dapat hadiah, saya tak akan bisa meng-klaim, karena tidak terdaftar atas nama saya. Hal lain, nomor saya jelas telah diketahui dan kemungkinan besar akan dapat terror sms promosi terus menerus, 🙂

(cari kartu lain, 🙂 )

Bunglon

Kinanthi: Woi…, Meg
Megatruh: Eh, halo Kin

K: Lama gak nongol ya
M: Iya nih

K: Memang situasi sedang  nggak mendukung
M: Iya nih, serba salah

K: Yup, salah ngomong sedikit, walau tak disengaja, bisa dilaporkan pakai pasal penistaan, hihihi
M: Yeah,  mulutmu harimaumu

K: Ye, ndak segitunya juga sih, kasihan harimaunya kalo diamakan dengan kita
M: Iya juga, maaf ya harimau…

K: Busyet Meg…, kamu ini
M: Lagian, akhir-akhir ini bayak kutu loncat, bunglon, laba-laba si tukang jerat dan kodok, si amfibi yang hidup di dua alam…

K: Woi, woi…, stop dah. Tadi harimau, sekarang malah nyebut yang lain, banyak pula
M: Eh? Apa Kin?

K: Jangan dengan mudah memberi cap pada seseorang seperti bunglon atau kutu loncat walau pada kenyataannya dia memang plin-plan, suka pindah-pindah, siapa tahu yang terakhir ini memang dia benar-benar….

M: Lah…, aku ndak ngomong soal politik. Cuma ingat sama hewan-hewan imut yang suka nogkrong di taman depan rumah

K: …