The Best Ever

 Pulang dari kampus

 Sampai rumah, buka garasi, masukkan si ducati .

 “Ayah pulang”

 Dibukakan pintu dalam sama Alfa, diganjal sama barbel kaki biar gak nutup lagi.

 “Makasih mas “

 Terdengar ketiplak-ketiplak khas kaki adek lari dari belakang

 “Ibuk…, ayah pulang”

 “Iya” sahut ibuk dari belakang.

 Lepas baju, tinggal pake kaos warna kelabu yang  diwajibkan alfa (dia protes kalo ayahnya pake warna selain kelabu dan hitam).

 Mau ganti celana jeans dengan celana pendek, eh si adek sudah narik tangan.

 “Ayah makan” sambil menuntun ayah ke depan

 “Iya”

 Di ruang depan sudah ada “tamu” lain untuk teman makan sore a la adek, penguin dan kelinci.

 “Ayah ndulang penguin, adek ndulang kelinci ya” kata adek.

 “Iya”.

 Jadilah acara pertama di rumah diisi dengan menyuapi penguin, walau perut sendiri kelaparan.

 Alfa muncul,

 “Adek, ayok sini”

 Beta yang selalu ikut ajakan mas-nya langsung sigap meninggalkan kelincinya.

 “Ayah tunggu ya”

 Mereka berdua menghilang ke belakang.

 Bengong sendiri,

 Mau lihat tv juga paling gak boleh ubah channel sama Alfa, jam segini waktunya Kambu (eh atau Monk, atau Pororo).

 Jadilah tiduran di sofa depan.

 Belum semenit merasakan nikmatnya punggung yang beradu dengan sofa

 Sayup-sayup terdengar langkah kaki mereka berdua dari belakang, kali ini pelan, hati-hati.

 Alfa muncul, disusul Beta di belakang

 “Selamat ulang tahun Ayah”

 Mereka masing-masing membawa semangkuk puding.

 ….

“Selamat ulang tahun Yah, semoga…” Ibuk ikut nimbrung.

 “Yuk nyanyi sama-sama dulu…”

 ….

 Dan sore itu kami menikmati puding buatan ibuk berempat, di ruang depan.

 Puding coklat untuk ayah, ibuk dan Beta

 Alfa makan puding pink, warna favoritnya, sendirian, 🙂

 Sore yang menyenangkan

Langit

  (Terinspirasi karena teringat cerita P Rosyid bertahun-tahun yang lalu )
  Megatruh: Kin, mbok ya kamu itu sedikit rajin gitu apa. 
  Kinanthi: Rajin tidur dari pagi ke pagi lagi kayak kamu gitu maksudnya. Halah Meg, kalo nasehati orang ya ngaca dulu gitu
M:  Ngaca gimana. Aku kan memang kerja malam Kin, kuliah juga kebanyakan siang. Lha kamu tuh malah gak jelas, kuliah pagi gak masuk, tadi si Naya bilang pas kuliah siang sama aku, yang harusnya sama kamu juga. 
K: Maksudku kamu itu lho, mbok ya ngaca dulu, bercermin…, kayaknya habis mandi sore tadi kamu lupa gak sisiran kan?
M: Oh, … 
K: Tuh kan, kamu sendiri terlalu serius. Hidup itu dinikmati Meg. Sekali-sekali ikut ngeband sama aku. Jadi kru tukang bawa-bawa gitar sama cymbal gitu, nanti kan bisa masuk gratis ke kafe.
M: Gak mau. Fokus kuliah
K: Gayamu, fokus tapi punya sampingan.
M: Ngelesi kan juga gak jauh-jauh dari pulpen dan kertas Kin. Mengasah otak biar tetap tajam. 
K: Yeah-yeah, … 
M: Lha kamu, sudah ndak kuliah di bidang seni, tapi nge-band sana-sini. Mau kerja apa kamu nanti.
K: Loh, jelas kan, aku kerja di bidang seni.
M: Tapi kuliah kita kan nggak ada seni-seninya
K: Fisika itu seni Meg
M: …
K: Banyak seni di fisika. Seni menurunkan rumus, yang kalo ditulis di folio polos dan dijajar akan seperti batik yang bagus
M: Nah, mulai deh
K: Eit, masih belum. Banyak seni lain yang lebih seru.
M: (Pasti ngaco)
K: Seperti copy paste laporan atau makalah dengan sedikit modifikasi sana-sini. Nitip tanda tangan absen di kelas. Mencontek tanpa ketahuan.
M: Tuh kan
K: Hehehe
M: Kayak gitu mau kerja apa nanti
K: Lha kan sudah kubilang, aku mau ngeband
M: Cuma itu?
K: Emang kenapa? Apa salahnya dengan ngeband?
M: Kin, Kin, mbokya gantungkan cita-cita itu setinggi langit. Bikin LBB gitu, karuan nanti bisa jadi franchise menyebar se-Indonesia, atau minimal se-jawa dulu. Jadi guru plus sampingan, atau dosen sekalian.
K: Oh
M: Ada apa? Kenapa memangnya?
K: Aku juga gitu kok
M: Gitu gimana?
K: Menggantungkan cita-cita qetinggi langit
M: Lha tapi tadi kamu bilang…
K: Memang
M: Eh
K: Langitku bukan yang itu Meg
M: Maksudmu?
K: Langitku adalah langit yang berisi notasi musik, gitar, cymbal perunggu, sama piano.
M: Trus buat apa kamu belajar fisika?
K: Einstein itu pemain biola yang bagus
M: Tapi dia tetap jadi fisikawan kan
K: Lha kamu kalo misal jadi guru atau pengusaha LBB, atau dosen, apakah akan berarti otomatis jadi fisikawan? Atau sekedar business-man?
M:…
K: Kamu tahu Meg? Brian May, gitaris Queen, dia Doktor di bidang Fisika. 
M: Baru tahu
K: Dia bisa saja terus berkarir di musik. Dia sukses besar, tak perlu fisika pun dia sudah kaya raya. Tetapi dia tetap menggeluti fisika, dan setelah beberapa belas tahun akhirnya dia meraih Ph.D di astrophysics. Bagiku, dia fisikawan yang cinta fisika. Bukan yang menjadikan fisika sebagai tameng atau mungkin topeng dari bisnis. Brian May punya penghasilan dari bidang lain, dan menggeluti fisika dengan sepenuh hati.
M: Uh, oh. Kamu bisa juga ngomong serius dan panjang gitu Kin
K: Heh, Meg, dasar 
M: Apa Kin? Lha kan memang jarang kamu ngomong dengan dedikasi kayak gitu
K: Karena itu langitku Meg, itu langitku.

Even Wave Equation on Infinite-depth Potential Well (with Some Variation Potential in Between) using Shooting Method,

It’s from previous code, I use it to simulate even function.

from pylab import *

figure(3)
n = 39
psi0= zeros(n) #
psi = psi0 #
x = linspace(0,1,n)
V = zeros(n)
#V = 39*pow(x,2)

for i in arange(n):
if i<n/2.:
V[i] = 73.
else:
V[i] = 0.

psi0[0] = 1.
psi0[1] = psi0[0] #for odd function, use another value, 
                  #but psi0[0] must be zero

t = 0
dx = 1./n
E = 1.
dE = .1
err = .05
while t< 771:
#k = 2*dx*dx*(E-V)
for i in range (1,n-1):
k = 2*dx*dx*(E-V[i])
psi[i+1] = 2*psi0[i]-psi0[i-1]-k*psi0[i]
psi0 = psi
if abs(psi[n-1])<err:
print E
plot(x,psi)
t += 1
E += dE

xlabel('x')
ylabel('psi')
title('Fungsi Gelombang')
grid(True)
savefig("shooting.png")

figure(2)
plot(x,V)

xlabel('x')
ylabel('V')
title('Potensial')
grid(True)

show()



.
Here’s some result with different potential V

Energy Quantization on Potential Well; Shooting Method, :) .

 Using Pylab module

 Unlike the code before, only chosen energy with psi=0 on both end is plotted.

from pylab import *

n = 59
psi0= zeros(n)
psi = psi0
x = linspace(0,1,n)

psi0[0] = 1.

plot(x,psi)

t = 0
dx = 1./16.
E = 0.
dE = .2
V = 0.
while t< 1337:
t += 1
E += .01
k = 2*dx*dx*(E-V)
for i in range (1,n-1):
psi[i+1] = 2*psi0[i]-psi0[i-1]-k*psi0[i]

#psi[2:] = 2*psi0[1:-1]-psi0[:-2]-k*psi0[1:-1]
psi0 = psi
#print psi[n-1]
if abs(psi[n-1])<=dE:
#pass
print E
plot(x,psi)


xlabel('x')
ylabel('psi')
title(':)')
grid(True)
savefig("els.png")
show()


.

Megatruh dan Kinanthi

 M : Hari ini capek Kin

 K : Tumben Meg?

 M : Eh, capek kok tumben

 K : Lha ya itu, kamu kan cuma makan tidur tok, kuliah juga jarang, kok bisa sampai capek?

 M : Dasar… Ni klenger habis berhari-hari ngerawat temen satu kost yang sakit

 K : Wow, sejak kapan kamu perhatian sama orang?

 M : Kayaknya kena gejala tipes

 K : Keren, sejak kapan kamu jadi bisa diagnosa kayak dokter gitu?

 M : Harus belikan dia makan dan memastikan dia menghabiskan

 K : Wah, harus traktiran nih, padahal kamu ngerawat diri sendiri saja tidak bisa

 M : Kamu itu Kin, ada teman kerepotan gini malah ndak simpati sama sekali

 K : Ups, jadi kamu repot ya, sori ganggu, eh , tapi tunggu, bukannya kamu yang tadi cerita duluan Meg, walah.

 M : Huh, tak tidur aja, repot curhat sama kamu

 K : Hei, tunggu Meg, memangnya kamu gak telpon atau sms atau WA keluarganya gitu?

M : Iya sih, tapi dia yang gak mau kalo keluarganya ke sini

K : Lha kenapa? Kan lebih bagus kalo dirawat keluarganya, daripada dirawat orang gak jelas kayak kamu.

M : Gak boleh ke sini sama dia. Dia gak mau ngerepotkan keluarganya.

K : Wow, keren sekali prinsipnya. Mirip sama prinsipku.

M : Eh, tumben kamu pake prinsip-prinsipan segala, memang punya?

K : Jelas punya lah, sudah kutetapkan sejak 7¾ detik yang lalu

M : Sudah kuduga

K : Gak pengin tahu?

M : Gak

K : Tanya dong

M : (ambil napas panjang), ok, apa?

K : RAHASIA…

M : (Lempar sandal)

K : (tangkap sandal), Ya ampun Meg, sampai sendal pun beda warna, itu kan style-ku. Kamu benar-benar repot ya. Benar-benar bagus prinsipku yang baru ini berarti.

M : Memangnya apa sih?

K : Prinsipku? Daripada menyusahkan KELUARGA, lebih baik menyusahkan TEMAN DEKAT.

M : (lempar sandal satunya)

K : (tangkap sandal) makasih, kupinjam dulu, beli lalapan, hm…, pink sama hijau, kesukaanku.

Shooting Method on Potential Well

It’s the base code I wrote using Python, still need improvement to get energy level or even what energy allowed in the system.

from pylab import *

n = 19
psi0= zeros(n)
psi = psi0
x = linspace(0,1,n)

psi0[0] = 1.

plot(x,psi)

t = 0
dx = 1./8.
E = .1
V = 0.
while t< 27:
t += 1
E += .2
k = 2*dx*dx*(E-V)
for i in range (1,n-1):
psi[i+1] = 2*psi0[i]-psi0[i-1]-k*psi0[i]

psi0 = psi

plot(x,psi)


xlabel('x')
ylabel('psi')
title(':)')
grid(True)
savefig("els.png")
show()


.

Sourdough Starter

 Ngapain repot-repot bikin adonan biang kalo gak bikin roti?
 Ehm, itu dua hal.
 Bikin sourdough starter tidak repot, cukup campur tepung dan air. Biarkan semalam, tambah lagi tepung dan air, biarkan lagi semalam, …, dst. Lactobaccilus dan Saccharomyces akan bekerja otomatis dan dalam seminggu jadilah adonan biang siap pakai dan siap rawat.
 Lah, gimana merawatnya? Pakai setengah adonan dan tambahkan lagi tepung dan air. 
 Berarti harus bikin roti tiap hari?
 Gak harus roti kok. 
 Buat campuran telur dadar juga ok, mengembang, ada crust nya, kerak, berongga, kenyal, asam, asin, mirip roti tawar keju, eh…
 Enak, bagiku.
 🙂

Telur dadar pun bisa jadi kayak roti, 🙂

School of Physics

 Kegiatan yang biasa, belajar fisika. Di luar kampus, di tempat yang nyaman,  beberapa mungkin tempat wisata, tetapi tidak untuk rekreasi, untuk belajar.
 Topik biasanya dipilih, jadi ada SOP Mekanika (di Borobudur, Magelang), SOP Quantum di Kaliurang. Yang terakhir adalah SOP Gravitasi di Batu, Malang. 
Peserta boleh berasal dari manapun. SOP pertama diikuti oleh mahasiswa S2 UGM dari lab KAM (Kosmologi, Astrofisik dan Fisika Matematik), dengan tema Classical Mechanics Weekend. 
Seiring waktu, peserta mulai berkembang. SOP Quantum di Kaliurang Yogyakarta diikuti oleh peserta dari UGM, UNY, UAD, Yogyakarta, Unnes Semarang, UM Malang, ITS Surabaya.
SOP pernah keluar dari Yogyakarta (ehm,  bahkan yang pertama di Magelang, 🙂 ). Pernah dilakukan di Semarang. 
Kali ini diadakan di Batu, Malang Raya, Jawa Timur. Dengan empat panitia, secara tak resmi berjumlah 4¾. Tanpa ketua, tanpa struktur. Lha kok bisa? Heh, ada SOP sebelum ini yang bahkan cuma 1 orang panitia, dengan struktur (ketua, sekretaris, bendahara, sie konsumsi, dilakukan satu orang 🙂 ). SOP selalu unik. Tak apa, asal peserta nyaman untuk belajar.
Biaya diusahakan seminimal mungkin, untuk kegiatan selama tiga hari dua malam, biaya menginap dan makan, peserta membayar sekitar Rp.200.000 (bisa lebih bisa kurang, tetapi tidak jauh-jauh dari itu).
OK, itu murah, lumayan, trus apa istimewa-nya? 
Ehm, pemateri tidak dibayar, 🙂
Yeah,  pemateri membayar seperti peserta biasa. Berangkat sendiri ke tempat acara, dan membayari biaya transport sendiri. Ini menjelaskan kenapa biaya SOP bisa sangat murah. Tak ada anggaran untuk honor pemateri.
Lho kok mau? 
Eh, justru bagus kan? Pemateri yang bersedia  adalah pemateri yang datang bukan untuk uang, melainkan memang benar-benar ingin transfer ilmu.
Jadwal yang penuh dengan materi tanpa rekreasi  juga strategi yang bagus. Hanya yang ingin belajar fisika yang ikut. Cuma sedikit? Tidak juga. Gimana kalo ternyata cuma sedikit? Tidak masalah, justru belajar jadi lebih nyaman.
Benar-benar tak ada rekreasi? Yup. Jika ingin, bisa dilakukan setelah bangun tidur pagi hari (kemarin tidak mungkin, jam 5 pagi bersuhu 17 C, 🙂 ). Bisa juga dilakukan saat istirahat makan siang (petik apel tanah seperti yang dilakukan Deny sama Syawal)
Bisa juga dilakukan di hari terakhir setelah penutupan. Kegiatan hari terakhir SOP biasanya hingga pukul 12.00, sudah termasuk penutupan.
Begitulah, School of Physics.
Asyiknya, seperti jet-lag, selang beberapa hari setelah kegiatan, handphone tak henti-hentinya dapat notifikasi  “like” setelah upload foto-foto di facebook, 🙂