Tas Kulit

 Keluar toko.
 Tangan kiri menenteng tas plastik besar.
 Tangan kanan memegang tas ransel setengah terbuka, berusaha mengorek-korek isi tas dengan tangan kiri yang juga sedang sibuk menahan agar roti yang barusan dibeli tidak berhamburan keluar. Dia menyesal telah begitu saja menyumpalkan kunci motor ke dalam tas ketika masuk toko tadi. Akan lebih praktis jika masuk saku.
Hujan yang tadi super deras baru saja reda.
Dia menapak aspal basah menuju motor bebek agak-tua nya.

Berpapasan dengan pria berpakaian jas hitam ber-tas jinjing kulit, tersenyum ramah. Dia hanya mengangguk seadanya. Masih mengaduk tas.
“Barusan reda mas” Orang itu mengiringi.
“Inggih pak”. Ah, itu dia, tangannya meyenggol benda familier, bersuara gemerincing kunci.
“Saya seharian belum makan”
“Hehehe, saya juga pak, saya biasanya makan pagi sama malam. Siang gak pernah.” Walah, kuncinya masuk lebih dalam di sela-sela headset dan ipod yang entah tahun berapa dia terakhir kali memakainya.
“Saya lapar”
“Nggih, saya juga. Tadi gak sempat sarapan, berangkat ngajar-nya kesiangan”. Menarik keluar kunci. Dan berbonus benda merah kusut pipih panjang. Seperti spagetti dengan saus merah entah apa. Uh, ngapain pakai acara tersangkut kabel headset segala. 
“Bisa minta uang Dik?”
Akhirnya sampai juga ke motor,  punya istrinya yang dibeli sepuluh tahun lalu. Mengaitkan tas plastik besar ke kait depan tidak mudah. Akhirnya dia putuskan untuk dipangku saja, tapi nanti pasti agak kikuk ketika motor jalan.
“Kalo lapar, saya tadi beli roti pak. Buat ulang tahun istri. Bukan yang besar, saya tadi beli yang kecil juga, empat buah. Saya buka jatah saya ya, kita bagi dua, saya juga lapar “
“Gak suka roti mas” 
Panggilannya sudah berubah.
“Oh, mari makan ke rumah saja ya. Istri saya masakannya enak lho. Sekalian njenengan bawakan tas plastik roti ini, saya kesulitan bawa”
“Wah, gak usah mas”
“Oh, ya sudah” mengambil uang dua ribu tuk tuk bayar parkir. Hampir saja plastik rotinya terjatuh,
“Uang saja mas”
“Maaf, apa pak?”  Memandang aneh karena si bapak tak mau membantu. Bukannya ingin dibantu sih.
“Saya minta sodaqoh pak” panggilannya berubah lagi
“Apa itu pak”. Kunci kontak motor akhirnya terpegang juga, sebuah prestasi yang patut diacungi jempol karena isi tas tidak berhamburan keluar. Eits, gak usah mengacungkan jempol, nanti rotinya jatuh.
“Saya minta sumbangan”
“Sebentar pak” sulit juga ngobrol sambil membetulkan letak kotak kue dengan jari-jari tangan kanan menjepit lembaran dua ribuan. Akhirnya dia gantung saja di setang sepeda sebelah kiri.
“Sumbangan apa pak?”
“Ya sumbangan uang mas” hm, panggilan si bapak ini tidak konsisten. Tetapi kalo dipikir, pakaian si bapak juga tidak konsisten dengan “pekerjaannya”
Dia memandang jas yang dikenakan, juga tas jinjing kulit yang sudah pasti jauh lebih mahal dari tas ransel ber-resleting-semi-jebol yang dia pakai. Spontan lihat sepatu, nah itu dia, juga kulit. Secara penampilan dia kalah jauh, karena kemana-mana dia pake sepatu jogging, bahkan saat mengajar dengan atasan batik.
“Ini pak” dia serahkan uang dua ribu yang sedianya buat parkir.
Si bapak setelah menerima langsung ngeloyor pergi. 
Ambil dua ribuan lagi deh. Ngobrak-abrik isi tas. Kali ini cari recehan, mungkin ada koin lima ratusan empat buah.
Ada.
Sepanjang jalan dia merenung. Dengan kue ultah yang dia putuskan untuk ditenteng sambil melajukan motor pelan-pelan dengan satu tangan.
Bagaimana jika bapak itu punya anak?
Bagaimana jika dia “bekerja” seperti itu untuk menyekolahkan anaknya
Bagaimana jika anaknya tak tahu kalo bapaknya dinas di emperan sebuah toko roti
Dia bahkan tak tahu kalo penghasilan bapak itu halal. Karena beda dengan tukang parkir, meski sama-sama mendapatkan dua ribu, tukang parkir memiliki deskripsi kerja yang jelas.
Tapi dia tahu satu hal
Dia gak mau nanti anaknya malu karena bapaknya “bekerja” sebagai peminta-minta di jalan.
#Megatruh

Allies in The Dark

 Bertanya kepada seseorang dengan bidang yang sama sekali lain, bahkan bertolak belakang, ternyata (kadang) ada gunanya.

 Bukan, solusinya bukan dari situ tentu saja, namun pertanyaan-pertanyaan yang jarang kita pikirkan karena sudah terbiasa berkutat di sana akan muncul, dan dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa itu (mungkin) akan muncul solusi.

 Kadang kita perlu palu yang berbeda untuk mengawali memecahkan sebuah masalah, begitu sudah ada sedikit retakan bisa kita lanjutkan membongkar dengan palu favorit yang kita kenal baik.

Follow

 Kata-kata teraneh yang kubaca: ku habis follow kamu, folback aku ya…
 Aneh sekali, bukankah mem-“follow” sesuatu itu seharusnya murni karena ingin, bukan karena diminta?
 Follow menurut saya beda dengan Friend. Berteman bisa dengan siapa saja. Bagaimana dengan follow/mengikut? Well, saya hanya mengikuti hal-hal yang menarik bagi saya, baik itu dari teman atau bukan. Saya gak ingin terpaksa mem-follow teman yang postingannya seputar keluh kesah pribadi, rumah tangga atau penuh dengan barang dagangan yang tidak saya perlukan. Ada teman lain yang cocok atau senang dengan posting semacam itu, buat bahan gosip, tapi tidak untuk saya, 🙂

 Juga beberapa yang mirip semacam berikut (tulisan aslinya, berikut kesalahan ketik maupun penggunaan kata-katanya)

Followback!!!

“If you not followback me – I was unfollow you”

 #edisiError

Paradox Dua iPad Alfa Beta.

 Saat hanya punya satu iPad; Alfa dan Beta selalu berebut.

 Alfa selalu pegang iPad, di manapun, kapan pun. Bahkan tidur pun sambil pegang iPad; terbangun kalau iPad diambil. Kebiasaan yang dimulai bahkan sejak sebelum dia umur setahun.

 Saat dek Beta lahir, dan si adek mulai mengenal iPad, adek harus menunggu Alfa tidur jika ingin main iPad, atau curi-curi kesempatan saat si kakak sedang asyik main mobil-mobilan, dan segera lari ketika kakak mendekat.

 Adakalanya saat adek sedang asyik dengan Animal Zoo tiba-tiba kakak mendekat dan terjadilah…

 Setelah punya dua;

 Mereka sering main mobil-mobilan berdua. Main pasaran, buat toko-tokoan, pura-pura jadi penjual es krim keliling, adek memasak mie dan ayam buat kakak, ibuk dan ayah. Apa saja selain main iPad.

 -_-

 iPad hanya untuk teman berangkat tidur Beta. Alfa kalau ngantuk malah ngajak ngobrol ayah sampai tertidur, tanpa menyentuh iPad sama sekali.

 Kalaupun mereka main iPad, mereka main iPad BERDUA. Alfa mengajari Beta berbagai permainan sampai bisa, kemudian sang kakak melihat di belakang adek yang sedang asyik main sambil sesekali memperingatkan jika adek bingung atau belum tahu sesuatu. Juga sering lihat film atau foto berdua sambil saling tukar cerita.

 iPad yang digunakan adalah iPad yang lama.

 #Kinanthi

Aturan

 memang dibuat untuk dipatuhi

 atau dilanggar.

 Tapi harus ingat, pelanggar aturan akan dikenai sanksi.

 Jadi, jangan bangga jika melanggar aturan

 tapi lari dari sanksi.

#Megatruh
#EdisiError

The New Setup

 I move the ride cymbal to the left to accommodate my open handed playing practice.

 Planned to place ride-crash cymbal on the right, but for now, I have 10″ splash, 12″ china and a tambourine, 🙂

 Oh, and I place the cowbell so it hit by my left pedal, alternate between cowbell, hi-hat and left bass-drum-pedal,  😛

 I wish I had 8″ tom, …

#SupernovaIEP @deelestari

 Menjelang dibukanya pre-order Supernova Inteligensi Embun Pagi, hampir semua toko buku online mengalami crash/hang/down. “Peretas” sedang beraksi? 😀

Nina Bobo

  Mata si buah hati perlahan-lahan terkatup, berangkat ke alam mimpi. 

 Tiada bosan ku jadi saksi keajaiban kecil ini tiap malam.

Teror Hitam

 Pagi ini sebelum ngampus seperti biasa teriak-teriak di loteng dulu. Namun kali ini lain, jika biasanya langsung nggebuki drum sekitar sejam atau dua jam, kali ini tanganku meraih tuts piano. Nyalakan, pilih stereo grand piano, kaki meraih sustain secara otomatis.

 Kumainkan  Terlalu Lama Sendiri dari Kunto Aji.

 Eh, tunggu

 ada yang aneh.

 Aku bisa memainkannya dengan lancar.

 Padahal pake nada aslinya, nada dasar A. Tangga nada dengan tiga tuts hitam di piano.

 Wow, ulang lagi ah.

 Dan benar saja, jari-jari ini dengan santai menekan AMaj7, kunci dengan dua tuts hitam. Juga DMaj7 (atau F#m/D bagi yang tak terbiasa dengan nama serem).

 Hm, sejak kapan aku bisa main kayak gini? Biasanya selalu terintimidasi dengan tuts-tuts hitam.

 Biasanya paling ekstrim (selain yang normal C), aku hanya main piano dengan nada dasar G, F. Paling mentok ya D.

 Mungkin “Practice make Perfect” ada benarnya. (gak juga, aku jarang berlatih 😀 )