Budaya

 Pagi.

 Alfa, Beta dan ibuknya sudah berangkat.

 Kututup semua pintu depan.

 Naik ke loteng.

 Nyalakan macbook. Hari ini ingin belajar pattern drum jazz-bossa atau swing tapi yang open handed, koordinasi kaki-tangan-ku masih kacau untuk genre ini.

 Kucari lagu-lagu Laura Fygi.

 Nemu yang lumayan cocok, All of Me.

 Putar.

 Loncat ke kursi drum, selagi masih intro bass.

 Suara alto Laura mulai masuk.

 Siap-siap, stik di tangan, drum akan masuk  dalam tiga, dua , satu, …

 “dung, blang gen tak tung dung, blang gentak tung dung …”

 ….

 Suara campursari model koplo masuk ke telinga dengan kekuatan seperti tetangga yang punya hajat nikahkan putrinya.

 Eh, tunggu…

 Memang ada tetangga yang nikahkan putrinya. Dan itu hari ini, walah.

 #####

 Telentang di karpet,.

 Stik drum tersisa satu, entah di mana pasangannya.

 Teriakan Laura Fygi yang biasanya bergema di kamar atas kalah dengan “Lingsir Wengi” yang dilanjut dengan “Burung dalam sangkar” nya Panbers yang dilanjut dengan “Manusia Biasa” Radja. Entah bagaimana si juru sound bisa memiliki playlist ajaib macam itu.

 Tentu saja speaker mungil 3 Watt di kamarku tak bakal bisa mengimbangi tumpukan cabinet 5000Watt yang volumenya di-set maksimal.

 Mandi aja. Mengistirahatkan telinga di kampus.

 Lah, pas di kamar mandi, suara sound system tetangga lambat laun dikecilkan dan akhirnya mati, weleh.

 OK, gakpapa. Teruskan mandinya.

 Selesai mandi. Nyalakan lagi Laura Fygi. Stik satunya ternyata menggelinding ke bawah sofa, tak masalah, vokal masuk, dan drum masuk dalam tiga, dua, satu…

 Dok dok dok, kulonuwun.

 🙁

 Tetangga memintaku datang ke rumahnya, kenduri. Standart rutin acara pengantin di sini.

 Rupanya itu yang bikin suara musik berhenti.

 Gak bisa pura-pura tidak ada di rumah, sepeda motorku kuletakkan di luar.

 Gagal nge-drum lagi.

 Untung sudah mandi, cuma perlu pakai celana yang “pantas”, tak sampai semenit aku sudah di rumah tetangga. Terlambat beberapa detik, kudengar tetangga lain yang diundang sedang menjawab salam dari pemimpin doa.

 Hiburanku pagi ini adalah, doanya dilantunkan dalam bahasa jawa kuno, bahasa yang familier bagiku, dan sudah lama tak kudengar, sejak lulus SMU.

 Dan doa itu lama sekali, sangat menyenangkan, aku tahu artinya hampir keseluruhan sedangkan tetangga lain memiliki tatapan kosong dan mengucapkan “nggih”, pengganti “amin”, dalam timing yang kurang tepat. 🙂

 Memang, aku tahu bahasa jawa klasik, tetapi aku tidak bisa membungkus nasi golong kenduri. Dari dulu selalu dibungkuskan orang.

 Lha sekarang ini, semua celingak-celinguk, karena gak ada yang tahu caranya.

 Akhirnya, dengan sedikit improvisasi, jadilah ini, 🙂

Akhir

Tarik napas….

Satu.

Dua.

Tiga.

Keluarkan…

###

Nun di atas sana, di dimensi yang hanya terlihatt  sang Mata, Ishtar sang Dewi kesuburan tersenyum. Dia telah melakukan tugasnya, membawa cinta ke mereka, dan perang. Gio dan Diva di sampingnya

Seperti mata uang. Tak laku jika cuma ada satu sisi.

Seperti Gio dan Diva. Jika satu lenyap, satunya akan mencari hingga pelosok rimba terdalam.

Cinta dan perang, terlihat bertentangan.

Keduanya adalah Ishtar.

###

Hening.

Bahkan Alfa pun terlelap.

Hanya Bodhi yang  terjaga, menatap damai ketiga teman gugusnya.

###

“Cuma gitu doang?” Dimas protes, berusaha merebut wireless keyboard dari pangkuan Reuben.

“Gak boleh, aku ingin endingnya kayak gitu, elegan…”

“Elegan apaan, tuh super menggantung. Sudah capek-capek membangun plot dan banyak twister, cuma diakhiri dengan keheningan, gak bisa…”

“Kan karakter Bodhi juga khas gitu, diakhiri dengan pesta? Malah gak banget, Bodhi gak punya tempat”

“Halah, kamu memang naksir Bodhi dari dulu, padahal itu ciptaanku kan”

“Jangan mengalihkan topik, endingnya harusnya…”

###
Sudah banyak kertas tempelan tercoret.

Dinding yang setahun ini penuh dengan kertas plot lambat laun mulai bersih, sudah pindah ke MacBook.

Satu kertas belum terlepas, bahkan belum ada tulisannya. Cuma kata #Ending tanpa isi.

Dewi Lestari, si empunya kertas, sedang sibuk bikin roti.

The Sarcastic Magnus, :)

 “I was proud that the four of us responded as a team. In perfect unison, like a well-oiled combat machine, we turned and ran for our lives.”
 Excerpt From: Riordan, Rick. “Magnus Chase and the Sword of Summer.” 

Joke Agreement, :)

 Among musicians, there’s often silent agreement about joke or not. Just like this (I got it at the comment on Scott’s Bass Lesson in Youtube)

 They’re having fun and not offended at all. I like this.

Mulai nge-Mix Lagi

 Nge-track lagu lamaku yang hilang.

 Dulu menggunakan gabungan Cool Edit Pro (Windows), Fruity Loop (Windows), Audacity (Linux), dan Hydrogen (Linux).

 Sekarang full menggunakan GarageBand.

 Judulnya  Entahmengapadiriinimenjaditakberdayasaatkautiadalagidisisiku.

 Masih dalam tahap membuat ketukan dan MIDI section.

 Gitar dan vokal belum ada,

Legal

 Saya penasaran apakah share tentang jus kulit apel, sawo, durian atau “cara meregenerasi” gigi, atau mencegah serangan jantung dengan rutin minum es kulit lemon  di pagi hari itu legal, apakah itu tidak termasuk mallpraktek? Karena jika saya melakukan apa yang diminta oleh share terakhir, maka akan sangat mungkin dipastikan saya bakal berakhir di rumah sakit.
 Banyak sekali share/tips/berbagi di grup-grup percakapan, media sosial, blog, … 
 Tentu saja itu bagus, tetapi apakah sudah pasti aman untuk dilakukan?

 Saya seringkali membaca artikel yang di-posting ternyata adalah hoax. Lebih parah lagi, ketika kita memberitahu bahwa itu berita palsu, si pen-sharing malah kadang tersinggung dan menulis “saya hanya ingin berbagi kebaikan, apakah salah?”. Lihat bahwa yang men-sharing pun tidak mengerti konsep hoax.
 Pertahanan terbaik untuk hal-hal tidak jelas seperti di atas agar tidak menghancurkan diri-sendiri adalah dengan berhati-hati. Jangan minum air rendaman tembakau, jangan minum cuka secara langsung, jangan melakukan sesuatu yang tak masuk akal meski itu demi kesehatan,…, kita tak akan bisa menuntut siapapun jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
 Hati-hati, …

Jungle Snare, Reggae and Open Handed Practice

 I’m guitarist, 🙂

 Just practicing hand-foot coordination with open handed playing. It’s terrible of course, :).

 The paradox I just found is I never like my main snare sound. But after I got the jungle snare (with a lot cracking and popping sound), I realized that my main snare sound is cool, for me, :P.

 I used Bruno Mars “The Lazy Song” as backtrack.