Modifikasi Flasher Lampu Sein LED

Seminggu ini berusaha me-LED-kan semua lampu (kecuali lampu utama). Berguna untuk meringankan kerja aki dan alternator, 🙂

Seperti biasa, tak sulit, hanya tinggal ‘plug-n-play’. Lampu rem, lampu senja, semua jadi memiliki watt yang kecil.

(saya lihat spek dari lampu stock-nya adalah 24 watt untuk satu lampu rem saja, waduh berarti satu lampu menghabiskan dua ampere!)

Seperti biasa juga, ada masalah. Kedipan lampu sein jadi lebih cepat karena flasher dirancang untuk dialiri arus yang besar. Flasher memang dirancang sedemikian sehingga jika ada lampu sein yang putus maka kedipan akan lebih cepat (karena arus yang mengalir lebih kecil) untuk memperingatkan kita agar segera mengganti dengan lampu baru.

Tapi LED kan tahan lama bertahun-tahun.

Saya juga tak begitu memerlukan “fitur peringatan dini” bahwa lampu sein saya putus. Yeah, tak ada peringatan dini untuk lampu rem atau lampu senja putus kan? Kita harus selalu mengecek mereka secara manual.

Nah, fitur ini di-disable saja.

Paling mudah dengan menambahkan resistor 6 Ohm yang dipasang secara paralel dengan LED. Dengan demikian arus yang mengalir akan tetap 2 Ampere (LED hanya membutuhkan beberapa miliampere) dan flasher tetap bekerja normal, kedipan lampu sein juga normal, namun plastik batok lampu kita akan bisa leleh karena resistor melepaskan banyak panas. (yeah, cara tersebut memang mudah, lampu sein akan menyala terang karena menggunakan LED, namun arus yang mengalir akan tetap, tidak ada penghematan energi dari aki)

Yang efektif adalah dengan mengotak-atik Flashernya.

Caranya,…, DuckDuckGoing,…, dan waduh…

Banyak sekali caranya, tergantung jenis flashernya.

Secara umum, fitur untuk deteksi lampu mati terbuat dari resistor yang berbentuk kawat lengkung.

Jika flasher kita seperti ini, tinggal diamplas saja kawat lengkungnya sedikit, pasang lagi, cek, jika kedipan kurang lambat, amplas lagi, cek lagi, … dst.

Jika tidak ada resistor berbentuk kawat maka cari resistor bernama R1 kemudian ganti dengan resistor bernilai 1M Ohm. Jika Flashernya menggunaka IC, potong sambungan di kaki IC nomor 7, …. (dan banyak lagi hasil DuckDuckGo yang lain)

Saya punya dua flasher, dengan nomor kode komponen yang sama, 81980-22070, namun ketika saya buka ternyata sangat beda sekali. Satu memiliki Resistor lengkung (yeah…) dan satunya hanya terdiri dari rangkaian resistor, dioda, kapasitor dan transistor.

Cara paling mudah sebenarnya adalah dengan mengamplas Flasher saya yang punya resistor model kawat. Namun cara demikian kurang cocok bagi saya karena jika suatu saat saya ingin mengganti lagi LED dengan lampu stock maka kedipan akan jadi sangat lama atau malah tidak berkedip sama sekali.

Akhirnya saya otak-atik flasher kedua. Ganti R1 dengan resistor 1M Ohm dan,…., gagal…

Ada forum lain yang mengatakan R2 yang diganti, ok, coba lagi dan gagal, ….

Penasaran, saya balik PCB-nya, urut rangkaiannya

Tidak sulit karena tidak ada IC-nya, ini hanya semacam timer sederhana. Timer semacam ini waktunya ditentukan oleh kapasitor dan resistor yang terhubung seri sehingga saya hanya perlu cari resistor yang seperti itu dan ternyata ketemu dua yang semacam itu!

Yang satu pastilah untuk kedipan normal, yang satu untuk kedipan cepat, disable saja untuk yang kedipan cepat, yaitu yang terangkai seri dengan kapasitor yang bernilai kecil

(dalam hal ini ternyata resistor dengan label R5 yang harus saya copot, bisa disambung dengan resistor 1M Ohm atau dibiarkan copot saja)

Tes, ganti semua lampu sein kanan dengan LED, waktu kedipan ternyata sama dengan yang kiri. OK, ganti semuanya dengan LED, 🙂

(lampu sein = sen = reting = riting = liting, tergantung kebiasaan menyebut di masing-masing daerah, 🙂  )