Tombo Ati (Carnaval Version)

Tamba ati iku lima sak wernane … (backing vocal: GOYANG THITHIK JOSS…)

Maca Al Qur’an angen-angen sak maknane

Kaping pindho shalat wengi lakonana (backing vocals: BUKAK SITHIK JOSS )

…..

Kayaknya lagu-lagu sekarang lebih mementingkan irama daripada isi. Lirik boleh apapun asal irama easy listening (atau ‘itu-itu saja’).

Pernah juga dengar lagu religi koplo satu album iramanya ya satu pola itu tok, beda lirik. Semakin aneh lagi karena disetel di masjid yang kosong tidak ada kegiatan; semata-mata agar terlihat religius (religius koplo?).

Front Row Replacement on Mountain Lion

I realized that OS X Mountain Lion didn’t have Front Row anymore; in fact, it deprecated since release of Lion.

I just got RowMote Pro on my iPhone and want to test it on Front Row and… nothing happenned.

I searched and there is a way to install back Front Row on Lion and (more complicated) on Mountain Lion, but most they suggest to use XBMC instead.

I installed it from XBMC site and Rowmote detect it instatantly and so does XBMC; it can be controlled through rowmote. I don’t know what happened but the XBMC icon just appear on my iPhone Rowmote apps.

As bonus, we can install official XBMC apps for iOS to from iTunes

Timer for Sleepy Eyes

Here my search result of IC 555 application that very close to what I want; the Pivot Headlight Retractor like Sleepy Eyes on my Mazda 323F Astina

the 555 timer is set to turn on the buzzer when the push switch is pressed; the buzzer sounds for approximately 8 seconds. This is a monostable circuit as it works only once. The switch must be pressed again for the buzzer to sound again.
Well, almost there, but I do need more…

 It have to

  • turn on when the headlight goes off after on
  • turn off after certain seconds (more or less half second)
  • reset timer when headlight goes on
The schematic above didn’t meet the requirement as the push button act as trigger while my ‘trigger’ is the headlight off condition. So if it applied directly, the timer will run continuosly since the trigger is always on and the ‘reset’ is above 0.7 V.
So, here is my mod
oops, what’s wrong? oh, it’s like pin 4 must go to Batt, not headlight, 🙂

IC 555

Setelah muter-muter cari diagram persamaan untuk Pivot Retractor Headlight untuk bikin Sleepy Eyes di Astina tanpa hasil, akhirnya berkesimpulan, kenapa tidak buat timer sendiri saja? 
Browsing dan …
Tentu saja yang muncul paling atas adalah IC klasik 555 yang tersohor itu. Sempat bingung karena lama tidak otak-atik perangkat elektronika, tapi sleepy eyes harus berhasil, :). Karena itu saya menyempatkan diri buka datasheet IC 555 dan mempelajari karakteristik IC timer ini.

Dari diagram terlihat bahwa GND jelas ke ground dan Vcc ke power supply DC, Vcc bisa bernilai 3V hingga 15 V.
OUT merupakan output dari IC ini dengan nilai sekitar 1.7 V dibawah Vcc atau GND
OUT menjadi tinggi (high; ada output; output terjadi) jika TRIG memiliki tegangan dibawah 1/2 tegangan CTRL yang biasanya bernilai 1/3 Vcc. Saat OUT aktif dan mengalirkan arus, maka timer akan mulai berjalan.
Timer dapat direset dengan menyambungkan RESET ke GND, namun timer tidak dapat aktif kembali jika RESET memiliki tegangan dibawah 0.7 V.
Timer berhenti (OUT berhenti mengalirkan arus) saat THR lebih besar dari CTRL.
DIS berfungsi untuk mengosongkan kapasitor.

CMS dan Keamanan Website

Saat ini sedang populer penggunaan CMS pada berbagai laman web. Kita sudah tidak begitu asing dengan blogger, wordpress, moodle dan joomla.

CMS (Content Management System) adalah sebuah sistem komputer yang dapat mempublikasi, menyunting, memodifikasi konten, melakukan pengaturan dan pemeliharaan sebuah halaman web dari sebuah halaman saja tanpa perlu pengetahuan bahasa pemrograman web.

CMS menyediakan sekumpulan menu untuk menambah halaman web, mengubah background, membuat menu/link di sidebar dan berbagai fitur web lainnya.

CMS menawarkan berbagai kemudahan. Seorang blogger hanya perlu fokus pada tulisan yang dia buat tanpa disibukkan oleh kode-kode CSS atau HTML. Pengajar online hanya perlu menyediakan dan mengupload bahan ajar beserta ujiannya tanpa perlu pusing-pusing mengembangkan sistem anti contek karena CMS Moodle dapat mengacak urutan soal dan urutan jawaban beserta timernya.

Ada berbagai macam jenis CMS berdasarkan fungsinya: blog, forum, e-learning, portal bahkan toko online.

CMS dengan berbagai kemudahannya telah membuat aktivitas publishing di dunia maya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Meski demikian ada hal-hal yang perlu diwaspadai saat kita memutuskan untuk menggunakan CMS untuk halaman web kita yaitu keamanan.

Karena CMS gratis tersedia secara bebas, sebuah CMS dapat dipelajari kode sumbernya dan pihak tertentu mungkin menemukan celah keamanan yang dapat digunakan untuk men-deface sebuah alamat web yang menggunakan CMS tersebut.

Update terbaru sebuah CMS mungkin dapat menambal sebuah celah keamanan namun karena sifat free dari CMS tersebut, maka setiap orang dapat beramai-ramai mendownloadnya dan beberapa pihak mungkin memfokuskan diri untuk mencari celah keamanan lain.

Subdomain um.ac.id pernah di-deface dengan memanfaatkan exploit dari sebuah free-CMS. Apakah ini berarti jaringan internet UM tidak aman? Jawabnya adalah: hal tersebut tidak ada hubungannya dengan jaringan.

Jika jaringan diibaratkan jalan dan pintu sebuah rumah. Maka halaman web dapat diibaratkan sebagai penghuni rumah yang membawa tas berisi uang. Sebuah CMS yang memiliki celah keamanan ibarat tas yang berlubang atau sobek. Seseorang hacker bisa saja mengganti uang di dalamnya dengan daun (mengubah konten web) atau mengambil semua uang hingga tasnya kosong ( menghapus isi web). Sebuah free CMS adalah sebuah tas yang desainnya (dan tempat sobeknya) diketahui oleh umum.

Kenapa tidak ditutup saja pintu rumahnya agar aman? Tentu saja bisa, namun dengan demikian maka pengunjung tidak dapat masuk ke dalam rumah (halaman web tidak dapat diakses).

Bagaimana agar aman? Tentu saja kita harus menutup celah keamanan dengan cara kita sendiri. Cara lainnya adalah dengan menggunakan CMS premium yang tidak tersedia secara bebas atau mengembangkan CMS sendiri sehingga kode sumber tidak dapat dipelajari oleh umum.

Karena itu, sedang ditelaah sebuah peraturan untuk keamanan website yang berada dibawah domain UM; pada tahun 2013 halaman web yang berada di domain um.ac.id wajib mengembangkan interface halaman web sendiri atau menggunakan CMS premium.

Nugroho Adi
(Pernah di post oleh penulis di http://berkarya.um.ac.id)

Relay Single Pole Double Throw

‘Mas, ada relay’

‘Ada’
(Ambil box berisi macam-macam relay, disodorkan satu)
‘Yang lima kaki’ 
‘Yang ada ‘a’nya atau tidak’
[yes, lega]
‘Iya iya, yang ada ‘a’nya’
‘OK, berarti sampeyan mengerti’
(Ambil box satunya sambil senyum ceria)
‘Memang kenapa mas?’
‘Biasanya kalo jawabnya ‘terserah’ atau gak bawa contoh, saya gak menjual yang lima kaki, takutnya salah’
‘…’
‘harganya 30rb mas karena ada ‘a’nya, kalo yang tidak ada cuma 25rb’
‘Beli DUA mas’
Demikian sekilas percakapan di sebuah toko part mobil setelah muter-muter di toko lain tidak menemukan relay yang dimaksud. Relay yang akan saya gunakan untuk menata ulang pengkabelan untuk motor retractor popup 323F astina saya.
Ada apa dengan huruf ‘a’? Kenapa bisa lebih mahal padahal sama-sama lima kaki?
Relay yang saya cari adalah relay Single Pole Double Throw dengan lima kaki.
85 arus kecil
86 ground
30 sumber arus 
87 tersambung ke 30 jika ada arus dari 85 ke 86
87a tersambung ke 30 jika TIDAK ADA arus dari 85 ke 86 (kaki 87a ini biasanya terletak di tengah)
Relay lima kaki yang biasa memiliki dua kaki 87 (